SATU HARI MENGENAL CIBEDUG

CIBEDUG, LEBAK, BANTEN

GUNUNG MERBABU

Trip to MERBABU MT

MUHAMMAD RIZKI ISKANDAR

welcome to My blog :)

Welcome

To my Sites

GOA SANGHIANG

KECAMATAN SOBANG LEBAK BANTEN

Sabtu, 14 April 2018

farmakognosi II : pembuatan simplisia bunga sedap malam


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman obat. Tanaman obat atau yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan obat baik berupa obat tradisional, fitofarmaka, maupun farmasetika. Dapat berupa simplisia (bahan segar atau yang dikeringkan), ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal dari alam.
Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk, seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, kapsul maupun tablet.
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku obat yang belum mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah dikeringkan. Permintaan bahan baku simplisia sebagai bahan baku obat-obatan semakin meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, juga dikarenakan efek samping penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil dibandingkan obat sintetis.
Produk hasil tanaman obat tidak hanya sampai pada bentuk simplisia, namun juga sampai pada bentuk ekstrak sebagai komoditi agrobisnis, melalui industri ekstrak. Untuk memperoleh mutu ekstrak yang diproduksi, maka setiap ekstrak harus dilakukan standarisasi.
Tanaman Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa) merupakan tumbuhan hijau yang berasal dari family Agavaceae. Nama tuberosa sendiri menunjukkan jika tanaman ini memiliki umbi (tuber). Tanaman ini juga memeiliki banyak khasiat seperti sakit kepala, pusing, menenagkan hati dan pikiran, rabun, dan lain-lain.













1.2.       Rumusan Masalah
1)   Apakah yang dimaksud dengan simplisia ?
2)   Bagaimanakah cara pembuatan simplisia bunga sedap malam yang baik dan benar ?

1.3.       Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, antara lain:
     1)   Untuk mengetahui yang dimaksud dengan simplisia,
     2)   Untuk mengetahui cara pembuatan simplisia bunga sedap malam yang baik dan benar, dan

1.4. Manfaat
1)      Dapat mengetahui apa yang di maksud dengan simplisia
2)      Dapat mengetahui cara pembuatan simplisia bunga sedap malam
3)      Dapat mengetahui zat yang terkandung di dalam bunga sedap malam


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Sedap malam (Polianthes tuberosa) adalah tumbuhan hijau abadi dari suku Agavaceae. Minyak dari bunga  ini digunakan dalam pembuatan parfum. Nama tuberosa menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki umbi (tuber). Saat ini dikenal sekitar 12 spesies darigenus Polianthes. Bunga sedap malam biasa mekar di malam hari. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Meksiko. Bangsa Astek mengenalnya dengan nama omixochitl, "bunga tulang". Nama bunga ini di India bagian timur adalah ratkirani, yang berarti "ratu malam". Di Singapura bunga ini dinamakan xinxiao, yang berarti "tempat ngengat hinggap". Di Persia, bunga ini disebut maryam, yang merupakan nama umum bagi anak perempuan. Bunga ini juga digunakan di Hawaii untuk pengantin dan dahulu di zaman Viktoria digunakan sebagai bunga kuburan. Harum bunga ini digambarkan sebagai kompleks, eksotis, manis, dan khas bunga.
            Tanaman ini tumbuh hingga 45 cm dan menghasilkan rumpun bunga putih. Daunnya panjang dan berwarna hijau muda yang mengumpul di pangkal batangnya. Genus tanaman ini masih berkerabat dekat dengan Manfreda. Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Asparagales; Famili: Agavaceae; Genus: Polianthes; Spesies: Polianthes tuberosa.
            Bunga Sedap Malam (Polianthes tuberosa) banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Bunga ini banyak dimanfaatkan sebagai bunga potong untuk berbagai keperluan. Selain itu bunga Sedap Malam juga dapat diolah sebagai bahan pembuat parfum, Sakit kepala, pusing, menenangkan hati dan pikiran, pandangan kabur, rabun mata, katarak, radang mata merah (conjuntivitis), susah tidur (insomnia), penambah darah, meningkatkan stamina, melancarkan ASI (laktagog), pegal linu.
            Pemanfaatan bunga sedap malam bagi kesehatan umumnya dibagi menjadi 2, yaitu pemakaian luar dan dalam. Dua manfaat tersebut diperoleh melalui sulingan dari bunga sedap malam yang mengahasilkan minyak, hasil sulingannya itu dikenal dengan nama minyak tuberose. Minyak hasil sulingan dari bunga sedap malam ini diyakini memiliki kandungan : geraniol dan nerol, farnesol, benzyl, alkohol, metil, benzoat, metil salsilat, metil antramnilat, eugenol, asam butirat dan kemungkinan asam fenilasetat. Kandungan-kandungan ini secara medis memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh dan penyembuhan beberapa macam penyakit.

BAB III
METODE KERJA
3.1  Alat dan Bahan
a.       Alat                                                                             b. Bahan
-          Blender                                                                    -    Air
-          Ember                                                                       -    Bunga sedap malam
-          Gunting                                                                    -     Silika gel
-          Kain putih
-          Oven
-          Plastik
-          Toples 


3.2  Cara Kerja
1.      Pengumpulan bahan baku
-          Umur panen bunga sedap malam pertama 25-30 minggu setelah tanam
-          Tinggi tanaman 44,5 – 55,2 cm
-          Lingkungan tanaman bisa di adaptasi dengan baik di daaran rendah sampai medium dengan altitude 50-600 m dpl
2.       Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Pada simplisia bung sedap malam bahan-bahan asing seperti bagian bunga yang busuk, daun, batang, serta pengotoran lainnya harus dibuang.
3.       Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pengotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia bunga sedap malam. Pencucian dilakukan dengan air bersih, dan di lakukan pada bak atau baskom. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba.
4.      Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama.
Proses pengeringan ada 2 cara :
·         Pengeringan Alamiah
            Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil.
            Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah menguap.
·         Pengeringan Buatan
Dengan menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu, kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur.
Pada pembuatan simplisia bunga sedap malam yang kami lakukan yang pertama dengan menggunakan oven., karena cuaca di daerah Bogor tidak stabil, namun setelah cuaca cerah kami menggunakan cahaya matahari, dan di tutupi dengan kain yang berwarna putih untuk pengeringan simplisianya.
5.      Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi kering untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotor-pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada sirnplisia bunga sedap malam kering.
6.      Penyimpanan
Penyimpanan simplisia bunga sedap malam disimpan pada wadah tertutup baik, ditambahkan silika gel agar tidak terjadi kelembaban pada simplisia dalam wadah, terhindar dari sinar matahari langsung, serangga, jamur, dan pengotor lainnya.


BAB V
KESIMPULAN

1)   Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia di bagi menjadi tiga, yaitu : simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia mineral.
2)   Proses pembuatan simplisia bunga sedap malam (Polianthes tuberosa) terdiri atas pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, pengeringan, sortasi kering, penyimpanan.























DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Anonymous. 1992. Prospek Bunga Sedap Malam. p: 160-165. PIP Trubus. Jakarta.
Effendi, K. 1989. Potensi, Tantangan dan Prospek Sedap Malam Sebagai Komoditas Andalan Untuk Agribisnis. p. 277-283. Prosiding Seminar Hortikultura Nasional. Malang.
Rukmana, R. 1995. Sedap Malam. Kanisius. Yogyakarta. 59 pp.


                                                                                       

LAPORAN ELIKSIR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Tujuan Percobaan
·         Mengetahui cara pembuatan sediaan eliksir dengan melihat pengaruh kombinasi pelarut dan pengaruh surfaktan terhadap kelarutan suatu zat.
·         Melakukan pengujian mutu sediaan eliksir

1.2  Dasar Teori
Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan sebagai sediaan”cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karerna bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan ke dalam golongan produk lainnya”. Sesungguhnya, banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik merupakan campuran homogen dari zat-zat terlarut yang dolarutkan dalam pelarut, menurut prinsip farmasi digolongkan ke dalam jenis produk lainnya. Misalnya larutan obat-obat dalam air yang mengandung gula digolongkan sebagai syrup; larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan etil alkohol) disebut eliksir.
Larutan oral, syrup dan eliksir, dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam bentuk larutan, biasanya berarti bahwa absorpsinya dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat dari pada dalam bentuk sedaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama.
Obat-obat cair menampilkan masalah menarik dalam rancangan bentuk sediaan. Banyak diantaranya merupakan zat-zat yang mudah menguap oleh karena harus disegel secara fisik dari atmosfer untuk menjamin keberadaannya. Masalah lainnya adalah bahwa obat-obat tersebut dimaksudkan untuk pemberian obat pada umumnya tidak dapat diformulasikan menjadi bentuk tablet, tanpa mengalami modifikasi obat yang besar.
Eliksir adalah cairan jernih, rasanya manis, larutan hidroalkohol digunakan untuk pemakaian oral, umumnya mengandung flavuoring agent untuk meningkatkan rasa enak 
Eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol.
Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan.
















BAB II
DATA PREFORMULASI
Teofilin
Rumus Molekul        : C7H8N402.H20
BM                            : 198,18
Pemerian                    : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa pahit, stabil di udara.
Kelarutan                   : Larut dalam lebih kurang 180 bagian air, tetapi mudah larut dalam air panas; larut dalam lebih kurang 120 bagian etanol ( 95%) p. mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam ammonia encer
Khasiat                      : spasmolitikum bronkial, bronkodilator kronik
pH                              : 3,8 – 6,1
Titik lebur                   : 2720
Stabilitas                    : Jika bentuk anhidrat terpapar udara dengan cepat menyerap air kurang lebih 4%, melebur pada suhu kurang lebih 248°C disertai peruraian.
Penyimpanan             : Wadah tertutup baik






BAB III
               METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
            a. Alat
1.   Botol plastik 100 ml.
2.   Beaker glass.
3.   Cawan uap.
4.   Corong.
5.   Gelas ukur.
6.   Kertas perkamen
7.   Mortir
8.   Pemanas stirer
9.   Spatel
10. Timbangan analitik
b. Bahan
            1. Alkokhol
            2. Aquadest
            3. Essence
            4. Pewarna
            5. Sirupus simpleks
            6. Sorbitol
            7. Teofilin
            8. Tween 80
3.2 Cara Kerja
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Dikalibrasi botol sampai 100ml
3.      Ditimbang masing-masing bahan
4.      Dibuat terlebih dahulu larutan surfaktan
5.      Kemudian ditambahkan zat berkhasiat sedikit-sedikit sampai larut
6.      Ditambahkan sirup simplek aduk sampai homogen
7.      Ditambahkan air aduk sampai larut
8.      Dimasukan kedalam botol, ditambahkan air sampai 100ml

















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan           
a.       Suhu Panas
Formula



Hari ke




0
1
2
3
4
5
6
Formula I







a.       Tinggi larutan
(cm)
3
2,8
-
2,7
-
2,5
2,5
b.      Warna
+++
+++
-
++
-
++
++
c.       Bau
+++
++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
++
-
++
-
++
++
Formula II







a.       Tinggi larutan (cm)
2,6
2,4
-
2,4
-
2,4
2,3
b.      Warna
+++
+++
-
++
-
++
++
c.       Bau
+++
++
-
++
-
+
++
d.      Rasa
+++
+++
-
++
-
++
++
Formula III







a.       Tinggi larutan (cm)
3
2,9
-
2,6
-
2,5
2,3
b.      Warna
+++
++
-
++
-
++
++
c.       Bau
+++
++
-
+
-
++
++
d.      Rasa
+++
++
-
++
-
++
++

b.      Suhu Dingin
Formula



Hari ke




0
1
2
3
4
5
6
Formula I







a.       Tinggi larutan (cm)
3
2,6
-
2,4
-
2,4
2,3
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau
+++
++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
++
-
++
-
++
++
Formula II







a.       Tinggi larutan (cm)
3
2,5
-
2,3
-
2,3
2,2
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau  
+++
+++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
+++
-

-
++
++
Formula III







a.       Tinggi larutan (cm)
3
2,7
-
2,6
-
2,6
2,5
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau
+++
++
-
++
-
+
+
d.      Rasa
+++
++
-
++
-
++
++

c.       Freeze Thaw
Formula



Hari ke




0
1
2
3
4
5
6
Formula I







a.       Tinggi larutan  (cm)
2,6
2,3
-
2,3
-
2,3
2,2
b.      Warna
+++
+++
-
+
-
+
+
c.       Bau
+++
+++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
+++
-
+
-
++
++
Formula II







a.       Tinggi larutan (cm)
2,6
2,5
-
2,4
-
2,4
2,4
b.      Warna
+++
++
-
+
-
+
+
c.       Bau
+++
+++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
+++
-
++
-
++
++
Formula III







a.       Tinggi larutan
(cm)
3
2,5
-
2,5
-
2,5
2,5
b.      Warna
+++
++
-
+
-
+
+
c.       Bau
+++
+++
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
+++
-
++
-
++
+
 
d.      Suhu Kamar
Formula



Hari ke




0
1
2
3
4
5
6
Formula I







a.       Tinggi larutan (cm)
6
5,4
-
5,4
-
5,4
5,4
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau
+++
+
-
++
-
++
++
d.      Rasa
+++
+++
-
++
-
++
++
Formula II







a.       Tinggi larutan (cm)
6
5,8
-
5,8
-
5,6
5,6
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
d.      Rasa
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
Formula III







a.       Tinggi larutan (cm)
6
5,8
-
5,8
-
5,8
5,8
b.      Warna
+++
+++
-
+++
-
+++
+++
c.       Bau
+++
+
-
+
-
+
+
d.      Rasa
+++
++
-
++
-
++
++
                    
e.       Berat jenis
Berat
FI
F2
F3
Jenis (g/ml)
1,0236
1,0256
1,0176

4. 2 Formulasi
Bahan
Formula 1
Formula 2
Formula 3
Teofilin
50mg/5ml
50mg/5ml
50mg/5ml
Syr simplex
20 %
30 %
40 %
Sorbitol
5%
10%
15%
Alcohol
20%
20%
20%
Tween 80
1%
1%
               1%             
Essence warna
qs
qs
qs
Aquadest ad
100ml
100ml
100ml

Penimbangan bahan
1.      Formula 1
a.       teofilin: 50mg/5ml x 100 ml = 1000 mg
b.      Syr simplex : 20/100 x100 ml = 20 g
c.       Tween 80 : 1/100 x 100 ml = 1 g
d.      Alcohol : 20/100 x 100 = 20 g
e.       Sorbitol  : 5/100 x 100 = 5 g
2.      Formula 2
a.       teofilin: 50mg/5ml x 100 ml = 1000 mg
b.      Syr simplex : 30/100 x100 ml = 30 g
c.       Tween 80 : 1/100 x 100 ml = 1 g
d.      Alcohol : 20/100 x 100 = 20 g
e.       Sorbitol  : 10/100 x 100 = 10 g
3.      Formula 3
a.       teofilin: 50mg/5ml x 100 ml = 1000 mg
b.      Syr simplex : 40/100 x100 ml = 40 g
c.       Tween 80 : 1/100 x 100 ml = 1 g
d.      Alcohol : 20/100 x 100 = 20 g
e.       Sorbitol  : 15/100 x 100 = 15 g


4.3 Pembahasan
            Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat pewangi, dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. Karena kelarutannya dalam air sangat kecil maka sulit dalam pemilihan pelarut non air yang dapat bercampur dengan air sangat sulit. Pada pembuatan eliksir kali ini zak berkhasiat yang di gunakan yaitu teofilin, dalam Farmakope edisi III kelarutan teofilin yaitu : larut dalam lebih kurang 180 bagian air, lebih mudah larut dalam air panas, larut dalam lebih kurang  120 bagian etanol (95%) p, mudah larut dalam larutan alkalihidroksida dan dalam ammonia encer p. warna putih, rasa pahit, tidak berbau, dan serbuk hablur.
            Teofilin adalah obat dengn fungsi untuk mengobati dan mencegah nafas pendek dan kesulitan bernafas yang disebabkan oleh penyakit paru-paru misalnya asma, emfisema, bronchitis kronis. Teofilin merupakan golongan obat keras, obat ini harus di beli dengan resep dokter di apotek atau instalasi farmasi rumah sakit. Pada pembuatan eliksir selain teofilin di tambahkan juga etanol, sorbitol, sirup simpleks, tween 80, pewarna dan perasa. Selain etanol penambahan sorbitol juga sebagai pelarut,
            Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan secara organoleptik, BJ, pH dan viskositas, stabilitas selama 6 hari. Setelah pengamatan selama 6 hari. Dari pengamatan yang telah di lakukan di dapat sediaan eliksir yang terbaik yaitu pada sediaan F2. Karena dari hasil pengamatan mulai dari bau, rasa, warna dan yang lainnya relatif stabil. Pada sediaan eliksir F1 dan F3 bau tween masih tercium tidak enak (mencolok). Kemungkinan yang menyebabkan bau tween yang masih mencolok dikarnakan kurang banyak pada saat penambahan perasa, dan pewangi. Sama seperti larutan sirup pada penyimpanan suhu panas, dingin dan freeze thaw di dapat hasil yang stabil yaitu pada suhu dingin. Pada suhu panas warnanya memudar sedangkan pada freeze warnanya lebih memudar, sedangkan pada suhu dingin warna tetap stabil.








BAB V
KESIMPULAN
·         Eliksir adalah cairan jernih, rasanya manis, larutan hidroalkohol digunakan untuk pemakaian oral, umumnya mengandung flavuoring agent untuk meningkatkan rasa enak. Eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol.
·         Pada pembuatan eliksir dengan menggunakan zat berkhasiatnya yaitu teofilin
·         Dari hasil pengamatan di dapat sediaan yang relative stabil yaitu pada formulasi F2